SEKILAS INFO

     » Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H      » Jl. Mastrip No. 23 Madiun. Telp. / Fax : 0351 - 462927      » Kami Memberikan Pelayanan dengan Sepenuh Hati      » Selamat Datang di Website Dinas Peternakan Dan Perikanan
Senin, 01 Juni 2015 - 20:23:33 WIB
Beberapa Penyakit Penting yang sering Ditemukan di Lapangan

Diposting oleh : drh. Syaiful Ratmus
Kategori: ARTIKEL KESEHATAN TERNAK - Dibaca: 2951 kali

 

Didalam manajemen kesehatan tindakan pencegahan penyakit sangat diperlukan dengan cara :

1)  Menjaga kebersihan kandang.

2)  Pemberian pakan yang cukup dan berkualitas.

3)  Menjaga kebersihan ternak dengan memandikan secara teratur.

4)  Melaksanakan Vaksinasi secara teratur.

5)  Menjaga kebersihan peralatan kandang.

6)  Memisahkan ternak yang sakit dari yang sehat.

7)  Pemberian obat cacing secara teratur.

8)  Segera melaporkan kepada Mantri Hewan/ Dokter Hewan terdekat apabila ada kelainanpada ternak.

Secara garis besar, penyakit pada ternak dapat digolongkan atas 3 (tiga) bagian :

  1. Penyakit Infeksi (Infectious diseases)
  2. Penyakit yang bukan infeksi (Non infectious diseases)
  3. Penyakit Reproduksi (Reproduction diseases)

 A.     Beberapa Penyakit Infeksius Yang Sering Ditemui di Lapangan, antara lain :

     1.  Bovine Ephimeral Fever (BEF)

  • Penyebab         : Rhabdovirus
  • Gejala              : tiba-tiba demam,  kaku dan dapat sembuh beberapa hari kemudian.
  • Angka kematian : ± 1 %

     2.  Malignant Catarrhal Fever   (MCF)

 

  • Penyebab       : virus Herpes
  • Gejala          : Demam (40 – 41 °c), konjungtivitis dan keratis mukopurulen serta keruhan kornea dari    perifer ke pusat.
  • Angka kematian  : 0,02 %          

     3. Fasciolosis (Distomatosis)

  • Penyebab      : Fasciola gigantica dan  Fasciola hepatica
  • Gejala           : Pengurusan yang cepat, lemah dan anemia serta pertumbuhan yang terhambat pada pedet.
  • Angka Kematian    : ± 1 %

     4.  Penyakit Radang Limpa (Anthrax)

  • Penyebab                  : Bacillus Anthracis
  • Gejala                       : perdarahan disemua lubang  kumlah
  • Angka Kematian          : 100 % dan bersifat Zoonosis

      5. Skabies (Gudigan)

  • Penyebab                  : Tungau (Mite)
  • Gejala                       : gatal dan rontok pada bulu
  • Angka kematian          : tidak ada

     6.      Foot Rot (Kaki busuk)

  • Penyebab      : Bakteri Fusiformis necrophorus
  • Gejala           : bengkak dicelah kaki dan bernanah, kuku terkelupas dan akhirnya pincang atau lumpuh.
  • Angka Kematian   : tidak ada

      7.  Myasis

  • Penyebab               : Bakteri Staphilococus Sp atau Bacillus sp
  • Gejala                    : pembusukan pada luka hingga keluar belatung.
  • Angka Kematian       : tidak ada

      8. Omphalitis

  • Penyebab               : Bakteri Staphilococus Sp atau Bacillus sp
  • Gejala                    : bengkak pada pusar dan bernanah hingga keluar belatung
  • Angka Kematian         : kurang 1 %

     9. Mastitis

  • Mastitis, yaitu peradangan kelenjar ambing yang bersifat akut, sub akut dan khronis. 
  • Penyebab   : Berbagai mikroorganisme yang dapat menimbulkan mastitis terkait dengan sanitasi lingkungan antara  lain : 
  1. Streptococcus sp,
  2. Staphilococcus sp,
  3. E. colli,
  4. Enterobacter aerogenes dan
  5. Pseudomonas aeroginosa
  •  Predisposisi kejadian mastitis, meliputi :
  1. sapi produksi susu tinggi lebih sering terkena dibanding produksi sedang,
  2. luka atau lecet pada puting susu akibat pemerahan kasar
  3. lantai kandang yang kasar,
  4. alat pemerahan
  5. sanitasi kandang yang buruk

 B.  Penyakit Non Infeksius :

     1.  Hypocalsemia

  • Penyebab      : Kekurangan Kalsium didalam darah dan tulang
  • Gejala         : Terjadi kelumpuhan terutama pada sapi betina yang sedang bunting, sesudah melahirkan atau yang sedang menyusui.
  • Pencegahan   : Memberikan mineral didalam pakan
  • Angka kematian    : ± 1 %

     2. Toksin

  • Penyebab       : keracunan makanan
  • Gejala            : Mulut keluar busa dan ternak langsung ambruk atau lumpuh serta kembung
  • Pengobatan   : Meminumkan susu kental manis atau air kelapa muda sebagai pertolongan pertama dan penyuntikan Atrophine sulfat sebagai antitoksin.
  • Angka kematian    : 100 %

     3.  Tympani / Bloat (Kembung)

  • Penyebab   : Makanan yang terlalu tinggi kadar air atau pengaruh perubahan cuaca yang terlalu ekstrim
  • Gejala        : Perut membesar, nafsu makan turun, tidak bisa buang kotoran dan kencing serta lumpuh .
  • Pencegahan : Memberikan makanan yang kadar airnya tidak terlalu tinggi serta menjaga kebersihan kandang
  • Pengobatan  : Meminumkan minyak goreng untuk menetralisir gas dalam lambung, melakukan palpasi rektal, tuksi, trocar serta obat antibloat.
  • Angka kematian    : dapat mencapai 100 % bila tidak ditangani dengan cepat

 

 B.   Penyakit Reproduksi

  1. Penyakit reproduksi tidak menular

     a. Distokia

  • Kesulitan kelahiran 
  • perlu pertolongan dari luar
  • Bila gagal lahir à induk sering terjadi kematian

     b.  Prolapsus

  • Penyembulan mukosa uterus setelah beranak
  • Sering pada hewan tua > 4 tahun & kurang exercise
  • Terdiri dari 2 yaitu prolapsus vagina dan prolapsus uteri

     c.  Retensio Secundinarum

  • Selubung fetus & placenta tertahan setelah melahirkan
  • Secundina, normal keluar max. 8 jam post partus
  • Terjadi akibat : Brucellosis, Vibriosis,  Streptococcosis & Staphylococosis ; Endometritis , Kekurangan Vitamin A dan E  dalam ransum

    d. Torsio Uteri

  • Pemutaran (terpelintir) uterus dari sumbu panjangnya
  • Kolik (gelisah, kesakitan, berguling – guling, kaki menendang perut) dll
  • Terjadi pada sapi bunting tua ( > 4 bulan)
  • Per rectal      :  ligamen uterus menegang
  • Intravaginal  : lubang vagina menyempit

 2.  Penyakit Menular

  a.   Brucellosis(Kluron)

  • Penyebab : Bakteri Brucella Abortus
  • Sering diikuti metritis dan Retensio Plasenta.
      • Gejala di induk tak konsisten.
      • Aborsi terjadi pada umur kebuntingan 7-9 bulan.
      • Fetus biasa tertahan 48-72 jam dan di Autolysis.
      • Placentitis : eksudat kecoklatan pada permukaan, nekrosis, Kotiledon kekuningan – kecoklatan.
      • Bronchopneumonia (fetus abortus).

 b. Bovine Viral Diarrhea (BVD)

  • Penyebab : Pestivirus fam. Flaviviridae
  • Masa inkubasi 7-9 hari
  • Karakteristik penyakit :
    • Demam tinggi ( 40,5 °C – 41,6 °C )
    • Discharge nasal
    • Pernafasan cepat
    • Anorexia
    • Diare
    • Aborsi terjadi 3-6 minggu pasca infeksi.
    • Kematian embrio dini
    • Infeksi dapat terjadi di semua umur.

 c.  Leptospirosis

  • Penyebab : Leptospira hardjo bovis & Leptospira pomona
  • Zoonosis
      • Abortus atau Pedet lahir lemah
      • Abortus bisa terjadi pada trimester ke 3, atau kapan saja (angka kematian pada pedet 33%).
      • Biasanya tidak terjadi lesi mencolok pada fetus (tapi bisa ikterus atau autolisis).
      • Gejala di induk, Ikterus, hemoglobinuria, anemia, agalactia, mastitis, demam (derajat kesembuhan pada induk relatif tinggi).

 3.  Gangguan Hormonal

1. Repeat Breeder / Nympomania

2. Corpus Luteum Persisten (CLP)

3. Cistic Ovary